Ide yang memunculkan kreativitas adalah modal utama untuk mengibarkan bisnis ini.
Untuk terjun ke dunia bisnis, masing-masing orang memiliki jalan tersendiri. Bagi Diah Din Puspasari, jalan itu berawal ketika beberapa tahun lalu ia melihat sebuah acara pernikahan yang 'muram', alias tidak sukses.
Betapa tidak, sang mempelai yang mestinya berbahagia di hari bersejarah itu, malah pusing tujuh keliling. Panitia bertengkar, orang tua memaksakan kehendaknya, alhasil acara istimewa itu pun berjalan tak sesuai dengan harapan. Pengantin perempuan yang mestinya duduk dan tersenyum manis di pelaminan, justru tampil cemberut. Di balik panggung, ia pun menangis tersedu-sedu. ''Kejadian seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi di acara pernikahan,'' tutur Diah saat ditemui di kantornya, AG Wedding Organizer (WO). Jujur, Diah iba melihat kedua mempelai yang mestinya berbahagia. Namun, ia tak bisa berbuat banyak saat itu. Hanya saja, sejak melihat acara pernikahan tersebut, muncul ide di benak Diah untuk mendirikan WO. Lewat WO, ia berharap bisa membantu calon pengantin untuk menangani segala keperluan pernikahan, mulai dari mengurus surat-surat persyaratan pernikahan, sewa gedung, katering, dekorasi, rias dan busana, foto, video shooting, undangan, souvenir, mobil pengantin sampai bulan madu. Pokoknya, kedua mempelai tahu beres, tinggal mempersiapkan fisik dan mental pada hari pernikahan.
WO, menurut Diah, berbeda dengan paket-paket pernikahan yang tengah gencar dipromosikan. Pada paket pernikahan, biasanya sudah ditentukan harga per paket, termasuk gedung, katering, pakaian pengantin, dan lainnya. Sedangkan pada WO, calon mempelai membahas dulu konsep pernikahan yang diinginkan, kemampuan anggaran, baru bisa ditentukan acara pernikahan yang diidamkan.
Ada kalanya, calon mempelai datang dengan konsep yang 'wah' tetapi hanya memiliki dana terbatas. Untuk ini, Diah bersama teman-temannya siap memberikan jalan keluar tanpa mengubah konsep yang diajukan si mempelai. ''Jadi keberadaan WO ini sebagai sahabat yang mendengarkan segala keinginan calon mempelai, sebagai manajer yang memberikan arahan atau masukan-masukan, sekaligus sebagai konsultan yang memberikan solusi. Kalau semua ini terpenuhi, rasanya ada kepuasan tersendiri,'' tutur wanita berusia 32 tahun ini.
Sejak berdiri tahun 2003, AG sudah menetapkan diri sebagai WO Islami dengan hanya melayani acara pernikahan untuk umat Islam. Tak heran, sekitar 90 persen mempelai perempuan yang ditangani AG-WO mengenakan busana pengantin Islami lengkap dengan kerudung. Saat hendak memulai usaha ini, Diah melihat, WO Islami masih sangat jarang. Artinya, peluang baginya untuk merebut pasar di arena WO Islami, masih terbuka lebar. Maka, dengan mantap ia pun mulai melangkah.
Bagi Diah, selain mendatangkan penghasilan, mengelola bisnis WO juga sangat menyenangkan. ''Dukanya hampir-hampir tidak ada,'' aku wanita yang sebelumnya menekuni bisnis salon Muslimah ini. Paling-paling, ia merasa kesal ketika pihak keluarga 'merecoki' konsep yang telah ia sepakati dengan mempelai. Kalau terjadi hal seperti ini, Diah biasanya mengambil sikap tegas dengan menanyakan kembali kepada calon pengantin: apakah akan menggunakan konsep yang telah disepakati atau konsep dari keluarga?
Tak butuh biaya besar
Merintis usaha WO ternyata tidak membutuhkan modal dana yang besar, utamanya bila dibanding dengan bisnis lain seperti katering atau busana pengantin. Bahkan, bagi Diah, modal uang adalan nomor dua. Sedangkan modal utamanya adalah ide cemerlang yang bisa memunculkan kreativitas. Selain ide, dibutuhkan pula kemampuan mengelola dan mengatur orang.
Sebab, usaha ini mengharuskan untuk bermitra dengan banyak pihak. Beruntung, Diah tak menemui kesulitan dalam urusan ini. Bisa jadi, ini merupakan buah dari pengalamannya berorganisasi saat masih kuliah.
Untuk saat ini, Diah merasa cukup senang dengan perkembangan usaha WO yang ia jalankan. Saat ditanya obsesinya ke depan, Diah mengaku ingin melihat bermunculan WO-WO Islami. Dalam pengamatannya, jumlah WO Islami saat ini masih sangat sedikit. Untuk mewujudkan keinginannya, Diah tak segan membagi ilmu yang dimiliki. Siapapun yang ingin konsultasi mengenai usaha WO, akan ia sambut dengan tangan terbuka. Tidak takutkah ia akan munculnya kompetitor yang akan mengancam laju bisnisnya? Wanita kelahiran 9 Maret 1974 ini, menggeleng. Baginya, kompetitor bukanlah pesaing melainkan mitra kerja yang bisa saling membantu.
Kini, Diah tampaknya sangat mantap dan menikmati dunia WO. Jangkauan AG-WO yang semula terbatas di kawasan Jabotabek, kini mulai berkembang ke Bandung. Bahkan, WO milik Diah pernah pula diminta menangani acara pernikahan di Pekanbaru, Riau. Ngomong-ngomong, mengapa Diah menggunakan bendera AG untuk bisnisnya? ''AG hanyalah sebuah nama, bukan singkatan dan tidak ada arti apa-apa.'' Memang, apalah arti sebuah nama. Jauh lebih penting adalah, bendera bisnis yang terus berkibar. vie
Sebuah tulisan di Republika terbit 24 September 2006
Label:
Wedding Organizer

